Tata Metode Pengurusan serta Penguburan Jenazah Penderita Covid- 19

Penindakan jenazah penderita Covid- 19 sudah lewat prosedur ketat di rumah sakit referensi serta nyaman buat dicoba pemakaman. Departemen Agama serta MUI telah

keluarkan ketentuan.

Wabah corona yang menjangkiti Indonesia sudah menimbulkan ribuan masyarakat terpapar serta ratusan yang lain meregang nyawa. Sampai Kamis( 16/ 4/ 2020), bersumber pada informasi Gugus Tugas Percepatan Penindakan Covid- 19, sebanyak 5. 516 orang positif mengidap virus corona jenis 2( SARS COV- 2), 548 orang sukses sembuh sedangkan 496 yang lain wafat dunia akibat serbuan virus ini.

Dari jumlah yang wafat, tidak sedikit yang proses pemakamannya ditolak oleh beberapa oknum masyarakat. Sementara itu, pemakaman jenazah positif corona sudah melewati proses pemulasaran yang ketat, cocok standar yang diatur dalam Protokol Penindakan Jenazah Penderita Covid- 19 Tubuh Kesehatan Dunia ataupun World Health Organization.

Pemerintah pusat lewat Departemen Agama( Kemenag) RI serta Majelis Ulama Indonesia( MUI) dan pemerintah di tingkatan daerah juga sudah menghasilkan panduan- panduan formal menimpa pemulasaran jenazah pengidap Covid- 19 sandiegohills .

Berikut ini merupakan tata triknya cocok dengan

protokol formal World Health Organization yang ditegaskan kembali oleh Departemen Agama, MUI, serta Dinas Pertamanan serta Pemakaman Provinsi DKI Jakarta.

1. Departemen Agama RI

Melansir dari web formal www. kemenag. go. id, Departemen Agama sudah menerbitkan tata metode universal mengurus jenazah penderita virus SARS COV- 2, mulai dari metode memandikan sampai menguburkannya. Perihal ini dicoba demi menghindari penyebaran virus, terhadap siapapun yang nantinya mengurus, memandikan, sampai menguburkan jenazah penderita. Tata metode itu menjajaki ketentuan universal yang berlaku bersumber pada agama yang dianut dari jenazah penderita Covid- 19.

Pengurusan Jenazah.

a. Memandikan jenazah penderita virus corona.

Butuh digarisbawahi, pengurusan jenazah penderita Covid- 19 wajib dicoba oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit, cocok agama sang korban, serta sudah ditunjuk oleh Departemen Kesehatan( Kemenkes). Jadi, tidak sembarang orang boleh mengurus proses pemakamannya.

b. Petugas kesehatan hendak melaksanakan langkah- langkah di dasar ini:

Memakai baju pelindung, sarung tangan, sampai masker. Seluruh komponen baju pelindung wajib ditaruh terpisah dari baju biasa.

Tidak makan, minum, merokok, maupun memegang wajah sepanjang terletak di ruang penyimpanan jenazah, autopsi, serta zona buat memandang jenazah.

Sepanjang memandikan jenazah, tidak berkontak langsung dengan darah ataupun cairan badan jenazah.

Jenazah setelah itu ditutup dengan kain kafan/ bahan dari plastik( tidak bisa tembus air). Jenazah yang telah dikafani serta dibungkus plastik setelah itu disemprot cairan klorin bagaikan disinfektan. Bisa pula jenazah ditutup dengan bahan kayu ataupun bahan lain yang tidak gampang tercemar serta tadinya telah disinfeksi. Jenazah beragama Islam letaknya di dalam peti dimiringkan ke kanan. Dengan demikian kala dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

Jenazah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam kondisi menekan semacam buat kepentingan autopsi serta cuma bisa dicoba oleh petugas.

Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam.

Petugas senantiasa mencuci tangan dengan sabun ataupun sanitizer berbahan alkohol. Cedera di badan petugas( bila terdapat), wajib ditutup dengan plester ataupun perban tahan air.

Sebisa bisa jadi menjauhi resiko terluka akibat barang tajam.

Seluruh petugas kesehatan yang sudah mengurus proses pemulasaran sampai jenazah masuk peti serta pihak keluarga yang melihat prosesi tersebut diharuskan menempuh proses sterilisasi dengan disemprotkan cairan disinfektan ke bagian baju yang dikenakan dan senantiasa cuci tangan.

c. Tidak hanya itu, bila petugas terserang darah ataupun cairan badan jenazah, lakukanlah langkah- langkah berikut ini:

Lekas bilas cedera dengan air mengalir yang bersih

Bila cedera tusuk terkategori kecil, biarkanlah darah keluar dengan sendirinya

Seluruh insiden yang terjalin dikala proses memandikan jenazah wajib dilaporkan pada pengawas.

d. Bila jenazah beragama Islam, dicoba prosesi salat jenazah dengan syarat berikut ini:

Buat penerapan salat jenazah, dicoba di rumah sakit referensi. Bila tidak, salat jenazah dapat dicoba di masjid yang telah dicoba proses pengecekan sanitasi secara merata serta melaksanakan disinfektasi sehabis salat jenazah.

Salat jenazah dicoba sesegera bisa jadi dengan memikirkan waktu yang sudah didetetapkan ialah tidak lebih dari 4 jam.

Salat jenazah bisa dilaksanakan sekalipun oleh satu orang.

Sehabis proses memandikan, jenazah penderita poistif corona sudah siap dikuburkan. Adapula yang dikremasi menjajaki syarat agama dari jenazah dengan konvensi keluarga. Tetapi, proses penguburan jenazah penderita virus corona juga tidak boleh sembarangan. Karena, terdapat sebagian protokol yang wajib dicoba, buat menghindari penyebaran virus melalui tanah.

Prosesi penguburan jenazah:

Jenazah wajib dikubur dengan kedalaman 1, 5 m, kemudian ditutup dengan tanah setinggi satu m. Penguburan sebagian jenazah di dalam satu liang kubur dibolehkan sebab keadaan darurat. Untuk jenazah beragama Islam penguburannya dicoba bersama dengan petinya. Pemakaman jenazah bisa dicoba di tempat pemakaman universal( TPU).

Tanah kuburan dari jenazah penderita virus corona wajib diurus dengan hati- hati. Bila terdapat jenazah lain yang mau dikuburkan, hendaknya dimakamkan di zona terpisah.

Sehabis seluruh prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, hingga pihak keluarga bisa ikut dalam penguburan jenazah.

2. Majelis Ulama Indonesia.

Sedangkan itu Majelis Ulama Indonesia( MUI) sudah menghasilkan fatwa terpaut pengurusan jenazah muslim penderita Covid- 19. Pengurusan jenazah meliputi metode memandikan, mengkafani, mensalati, serta menguburkan.“ Umat Islam yang meninggal sebab wabah Covid- 19 dalam pemikiran syara tercantum jenis syahid akhirat serta hak- hak jenazahnya harus dipadati, ialah dimandikan, dikafani, disalati, serta dikuburkan, yang penerapannya harus melindungi keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan- ketentuan protokol kedokteran,” demikian bunyi pengaturan jenazah terinfeksi Covid- 19 dalam Fatwa MUI No 18 Tahun 2020.

Dalam Fatwa MUI No 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah( Tajhiz Al- Janaiz) Muslim yang Terinfeksi Covid- 19, dibagi atas syarat universal serta spesial. Syarat universal menarangkan terpaut keadaan syahid akhirat, salah satunya wafat sebab wabah. Berikut fatwa MUI tentang pengurusan jenazah Covid- 19 sepenuhnya.

A. Syarat universal pengurusan jenazah Covid- 19.

Dalam fatwa ini yang diartikan dengan:

Petugas merupakan petugas muslim yang melakukan pengurusan jenazah.

Syahid akhirat merupakan muslim yang wafat dunia sebab keadaan tertentu( antara lain sebab wabah/ thaun), tenggelam, dibakar, serta melahirkan), yang secara syari dihukumi serta menemukan pahala syahid( dosanya diampuni serta dimasukkan ke surga tanpa hisab), namun secara duniawi hak- hak jenazahnya senantiasa harus dipadati.

Perlengkapan pelindung diri( APD) merupakan perlengkapan pelindung diri yang digunakan oleh petugas yang melakukan pengurusan jenazah

B. Syarat hukum pengurusan jenazah Covid- 19.

Menegaskan kembali Syarat Fatwa MUI No 14 Tahun 2020 Angka 7 yang menetapkan kalau pengurusan jenazah( tajhiz al- janaiz) yang terpapar Covid- 19, paling utama dalam memandikan serta mengafani wajib dicoba cocok protokol kedokteran serta dicoba oleh pihak yang berwenang, dengan senantiasa mencermati syarat syariat. Sebaliknya buat mensalatkan serta menguburkannya dicoba sebagaimana biasa dengan senantiasa melindungi supaya tidak terpapar Covid- 19.

Umat Islam yang meninggal sebab wabah Covid- 19 dalam pemikiran syara tercantum jenis syahid akhirat serta hak- hak jenazahnya harus dipadati, ialah dimandikan, dikafani, disalati, serta dikuburkan, yang penerapannya harus melindungi keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan- ketentuan protokol kedokteran.

Pedoman memandikan jenazah yang terpapar Covid- 19 dicoba bagaikan berikut:

Jenazah dimandikan tanpa wajib dibuka pakaiannya.

Petugas harus berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan serta dikafani.

Bila petugas yang memandikan tidak terdapat yang berjenis kelamin sama, hingga dimandikan oleh petugas yang terdapat, dengan ketentuan jenazah dimandikan senantiasa mengenakan baju. Bila tidak, hingga ditayamumkan.

Petugas mensterilkan najis( bila terdapat) saat sebelum memandikan.

Petugas memandikan jenazah dengan metode mengucurkan air secara menyeluruh ke segala badan.

Bila atas pertimbangan pakar yang terpercaya kalau jenazah tidak bisa jadi dimandikan, hingga bisa ditukar dengan tayamum cocok syarat syariah, ialah dengan metode:

1). Mengusap wajah serta kedua tangan jenazah( minimun hingga pergelangan) dengan debu

2). Buat kepentingan proteksi diri pada dikala mengusap, petugas senantiasa memakai APD

Bila bagi komentar pakar yang tepercaya kalau memandikan ataupun menayamumkan tidak bisa jadi dicoba sebab membahayakan petugas, hingga bersumber pada syarat dlarurat syariyyah, jenazah tidak dimandikan ataupun ditayamumkan.

4. Pedoman mengkafani jenazah yang terpapar Covid- 19 dicoba bagaikan berikut:

Sehabis jenazah dimandikan ataupun ditayamumkan, ataupun sebab dlarurah syariyah tidak dimandikan ataupun ditayamumkan, hingga jenazah dikafani dengan memakai kain yang menutup segala badan serta dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang nyaman serta tidak tembus air buat menghindari penyebaran virus serta melindungi keselamatan petugas.

Sehabis pengafanan berakhir, jenazah dimasukkan ke dalam peti yang tidak tembus air serta hawa dengan dimiringkan ke kanan sehingga dikala dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.

Bila sehabis dikafani masih ditemui najis pada jenazah, hingga petugas bisa mengabaikan najis tersebut.

5. Pedoman mensalatkan jenazah yang terpapar Covid- 19 dicoba bagaikan berikut:

Disunahkan menyegerakan salat jenazah sehabis dikafani.

Dicoba di tempat yang nyaman dari penularan Covid- 19.

Dicoba oleh umat Islam secara langsung( muncul) minimun satu orang. Bila tidak membolehkan, boleh disalatkan di kuburan saat sebelum ataupun setelah dimakamkan. Bila tidak dimungkinkan, hingga boleh disalatkan dari jauh( shalat ghaib).

Pihak yang menyalatkan harus melindungi diri dari penularan Covid- 19.

6. Pedoman menguburkan jenazah yang terpapar Covid- 19 dicoba bagaikan berikut:

Dicoba cocok dengan syarat syariah serta protokol kedokteran.

Dicoba dengan metode memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa wajib membuka peti, plastik, serta kafan.

Penguburan sebagian jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan sebab darurat( al- dlarurah al- syariyyah) sebagaimana diatur dalam syarat Fatwa MUI No 34 Tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah( Tajhiz al- Janaiz) Dalam Kondisi Darurat.

3. Dinas Pertamanan serta Pemakaman Provinsi DKI Jakarta

Tidak hanya Kemenag serta MUI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lewat Dinas Kesehatan( Dinkes) DKI bersama Dinas Pertamanan serta Pemakaman DKI pula sudah membuat tata metode mengurus jenazah korban Covid- 19 tercantum mempersiapkan peti mati secara free.

Tata triknya mengacu kepada Undang Undang No 16 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan serta Pesan Edaran Direktorat Jenderal Penangkalan serta Pengendalian Penyakit Departemen Kesehatan No 482 Tahun 2020 tentang Pedoman Kesiapsiagaan Mengadapi Covid- 19.

Sebab perihal itu, Dinkes DKI juga menghasilkan Pesan Edaran No 55/ SE/ Tahun 2020 tentang Penerapan Pemulsaraan Jenazah Penderita Covid- 19 di DKI Jakarta Tahun 2020 diatur menimpa tata metode pemulasaran.

Penerapan pemulasaran jenazah penderita Covid- 19 dilaksanakan dengan mencermati prosedur semacam dibawah ini.

A. Ruang Rawat/ Kamar Isolasi.

1. Petugas

Persiapan.

Segala petugas pemulasaran jenazah wajib melaksanakan kewaspadaan standar kala menanggulangi penderita yang wafat akibat penyakit meluas.

b. Petugas membagikan uraian kepada pihak keluarga tentang penindakan spesial untuk jenazah yang wafat dengan penyakit meluas( uraian tersebut terpaut sensitivitas agama, adat istiadat, serta budaya).

Bila terdapat keluarga yang mau memandang jenazah, diizinkan dengan ketentuan mengenakan APD lengkap saat sebelum jenazah dimasukkan ke kantong.

Petugas yang menanggulangi jenazah mengenakan APD lengkap( baju sekali gunakan, lengan panjang serta kedap air, sarung tangan nonsteril( satu lapis) yang menutupi manset gaun, pelindung wajah ataupun kacamata/ google( buat prediksi terdapatnya percikan cairan badan), masker bedah, celemek karet( apron), serta sepatu tertutup yang tahan air.

Tidak hanya yang disebutkan di atas tidak diperkenankan buat merambah ruangan.

2. Perlakuan terhadap jenazah.

Tidak dicoba suntik pengawet serta tidak dibalsem.

Jenazah dibungkus dengan memakai kain kafan setelah itu dibungkus dengan bahan dari plastik( tidak tembus air), sehabis itu diikat.

Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah yang tidak gampang tembus air.

Yakinkan tidak terdapat kebocoran cairan badan yang bisa mencemari bagian luar kantong jenazah.

Yakinkan kantong jenazah disegel serta tidak boleh dibuka lagi.

Jalani disinfeksi bagian luar kantong jenazah memakai cairan disinfektan.

Jenazah sebaiknya dibawa memakai tempat spesial ke ruangan pemulasaran jenazah/ kamar jenazah oleh petugas dengan mencermati kewaspadaan standar.

Bila hendak diautopsi cuma bisa dicoba oleh petugas spesial. Autopsi bisa dicoba bila telah terdapat izin dari pihak keluarga serta direktur rumah sakit referensi.

B. Ruang Pemulasaran/ Ruang Jenazah

Petugas membenarkan kantong jenazah senantiasa dalam kondisi tersegel setelah itu jenazah dimasukkan ke dalam peti kayu yang sudah disiapkan, tutup dengan rapat, setelah itu tutup kembali memakai bahan plastik kemudian didisinfeksi saat sebelum masuk ambulans.

Jenazah diletakkan di ruangan spesial, hendaknya tidak lebih dari 4 jam disemayamkan di pemulasaran.

Petugas membagikan uraian kepada keluarga buat penerapan pemakaman supaya jenazah tidak keluar ataupun masuk dari pelabuhan, bandar hawa, ataupun pos lintas batasan darat negeri.

C. Mengarah Tempat Pemakaman/ Kremasi

Sehabis seluruh prosedur pemulasaran jenazah dilaksanakan dengan baik, hingga pihak keluarga bisa ikut dalam penguburan jenazah tersebut.

Jenazah diantar oleh mobil jenazah spesial dari Dinas Pertamanan serta Hutan Kota ke tempat pemakaman/ tempat kremasi.

Yakinkan penguburan/ kremasi tanpa membuka peti jenazah.

Penguburan bisa dilaksanakan di tempat pemakaman universal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *